Skip to main content

Posts

Artikel Terbaru

Mengunjungi Lorong Buangkok, Kampung Terakhir di Singapura

Kontras dengan Singapura yang gemerlap, di Lorong Buangkok, jalanan masih berupa tanah, ayam berkeliaran, dan pepohonan khas kampung di pekarangan. Seorang warga keturunan Bawean jadi sosok yang dituakan.
FOLLY AKBAR, Singapura ---
MAK Cik Ayu, demikian dia dipanggil, tengah mengaduk-aduk bubur lambuk saat Jawa Pos singgah di kediamannya pada Selasa siang lalu itu. Membuat bubur yang memiliki warna kekuningan dan bercampur potongan sayuran kecil-kecil Itulah tradisi warga muslim Melayu di Lorong Buangkok, Singapura, setiap Ramadan. ”Bubur ini hanya dibuat di bulan puasa. Saya buat banyak untuk bagi-bagi ke warga,” ujarnya.
Di Lorong Buangkok, lanjut dia, berbagi masakan atau apa pun yang dimiliki kepada tetangga merupakan hal biasa. Layaknya tradisi yang banyak ditemui di daerah bangsa Melayu seperti Indonesia. Sebuah tradisi, yang kata dia, hampir tidak ada lagi di Singapura.
Kampung Lorong Buangkok memang satu-satunya kampung atau desa dengan akar budaya Melayu asli yang masih tersisa di…
Recent posts

Melihat Aksi Trump dan Jong Un KW Sihir Warga Singapura

Kemunculan dua tokoh gadungan Donald Trump dan Kim Jong-un berhasil mencuri perhatian publik. Ingin tampilkan wajah politik yang menyeramkan dan kaku menjadi lebih seru dan lucu.
Folly Akbar, Singapura ---
RATUSAN orang terlihat berkumpul dan berbaris saling berdesakan di Bugis Junction Mall, Singapura, kemarin (10/6). Penasaran, Jawa Pos pun berupaya menyelinap di tengah kerumunan. Ternyata, mereka tengah menonton dua sosok yang terlihat familier sedang beraksi di depan spanduk bertulisan The Real Trump Kim Summit.
Dua sosok itu mirip Donald Trump dan Kim Jong-un. Sekilas nyaris tidak ada bedanya Namun, mereka sebetulnya hanya impersonator atau peniru. Adalah Howard X yang ada di balik Kim Jong-un kw dan Dennis Alan di balik Donald Trump kw.
Keduanya terlihat sangat telaten menanggapi permintaan wefie pengunjung. Ada saatnya mereka foto masing-masing dengan pengunjung, tapi tidak jarang keduanya wefie bersama. Tampak sangat sopan dan lembut. Sebagai peniru, keduanya dapat dibilang sangat …

Bernostalgia di Sisa - Sisa Kejayaan Sinetron Legendaris ”Si Doel Anak Sekolahan”

Warung dan opelet memang tak ada lagi. Tapi, di bagian belakang rumah Babeh Sabeni masih banyak jejak Si Doel Anak Sekolahan yang tersisa. Masih laris jadi sasaran orang berswafoto, termasuk yang datang dari luar Jawa.
FOLLY AKBAR, Jakarta ---
TAK ada lagi Warung Mak Nyak. Tempat si opelet tua biasa di parkir. Tempat Mandra dan Karyo biasa beradu mulut tiap pagi sebelum narik.
Kini berganti jadi saung kecil. Rumah Babeh Sabeni (Benyamin S.) pun telah berubah. Sebagian telah rata dengan tanah. Sisanya direnovasi dan digabung dengan rumah kontrakan Karyo di sebelahnya.
Halaman rumah yang dulu terlihat luas dengan banyak pohon yang tertanam di depannya juga berganti wajah. Kini kondisinya jauh lebih sempit. Namun, masih cukup rindang meski latar telah berganti batako dari semula tanah.
Bahkan, bagi mereka yang besar bersama Si Doel Anak Sekolahan, berbagai perubahan itu bakal membuat setting utama sinetron legendaris tersebut sulit dikenali. Kamis lalu (7/6) itu informasi warga sekitarlah yang…

Tiga Tahun Menjalani Profesi yang Fantastis ; Jurnalis

Awal bulan April lalu menandai tiga tahun saya menjalani profesi ini. Profesi sebagai seorang Jurnalis. Tiga tahun menjalani pekerjaan yang fantastis.
Namun, sebelum menceritakan pengalaman tiga tahun di lapangan, saya mau memberi sedikit latar belakang, kenapa saya bisa terjun di dunia ini. Karena semua ada alasannya.
Jadi gini. Dunia media, sebetulnya bukan dunia yang baru bagi saya. Sebab, dunia itu sangat melekat bagi anak seorang loper koran seperti saya. Sejak saya lahir, sekeliling saya memang sudah penuh akan berita. Semuanya berserakan. Dari banyak koran, majalah, tabloid sisa jualan bapak.
Tiap hari, sejak lancar membaca, saya hampir selalu baca dari sisa koran yang tidak terjual. Biasanya sore hari, sambil menemani bapak istirahat.
Karena saking biasanya, pernah suatu sore, sekitar kelas empat SD, saya nangis saat bapak pulang tidak membawa sisa koran. Sebetulnya aneh, mestinya saya senang jika dagangan bapak habis.
Namun saya punya alasan tersendiri. Saat itu, saya sebal …

Ada Garis Tuhan yang Terus Mempertemukan Kita

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta... Demikian potongan puisi karya Soe Hak Gie. Namanya puisi, tentu ini imajinasi. Namun jika kita cari dalam dunia nyata, aku, dan pasangan ku Devi Rahmawati tampaknya cukup layak merepresentasikan potongan puisi tersebut. Setidaknya, menurut ku pribadi.
Hampir empat tahun bersamanya, meski sempat putus, aku merasa kami ini lebih banyak perbedaan, di banding persamaan. Tapi justru, persamaan yang kita miliki, adalah kunci kami berdua bisa terus sama-sama. Yakni, kami sama-sama saling menyayangi.
Oh ya, meski kami bersama kurang lebih empat tahun terakhir, namun Devi bukanlah sosok baru. Kalau boleh cerita, aku mengenalnya sejak belasan tahun silam. Beberapa waktu setelah dia hadir di kehidupan ku dan teman-teman ku di SDN 3 Sumber. Saat kelas tiga tepatnya.
Kala itu, seorang perempuan mungil tiba-tiba masuk ke kelas ku. Di hadapan aku dan kawan-kawan ku, dia memperkenalkan diri. Ntah dari mana. Tapi mungkin tuhan yang kirim sehingga bi…

Agus Yuda, Sopir Truk yang Jalan Kaki Mojokerto-Jakarta Demi Curhat ke Presiden

Aksi premanisme berbentuk pemalakan yang terus menghantui para sopir truk pengangkut barang sudah membuat Agus Yuda jengah. Tak kuat terus menerus menjadi korban, Agus nekat jalan kaki ratusan kilometer untuk curhat menemui presiden Joko Widodo.
Folly Akbar, Jakarta
HARI yang didambakan Agus Yuda akhirnya tiba. Kemarin, Selasa (8/5), sopir truk asal Sidoarjo, Jawa Timur itu sukes menuntaskan mimpinya untuk bisa bertemu Presiden Joko Widodo. Usai mengikuti silaturahmi presiden dengan para pengemudi truk di Istana Negara, Agus ditemui secara khusus oleh Jokowi di ruang Istana Merdeka.

Bonusnya, Agus juga ditemui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Syafruddin. Pertemuan itu sendiri terbilang cukup istimewa. Pasalnya, upaya Agus untuk mewujudkan momen itu tidak semudah membalikkan tangan. Demi menunjukkan tekadnya, dia melakukan cara yang ekstrim dengan berjalan kaki dari Mojokerto ke Jakarta.

Untuk sampai di Jakarta, perjalanan yang dimula…

Cerita Rizal Banardi, Pelatih Panahan yang melatih Presiden Jokowi

Booming VLOG Presiden berlatih Tinju membangkitkan kembali ingatannya saat melatih panahan satu tahun yang lalu. Konsistensi Presiden dalam menggunakan alatnya, luwesnya protokeler, hingga dibelikan baju jadi momen paling berkesan buat Rizal. Folly Akbar, Kota Bogor WAJAH Rizal Banardi sangat antusias dan tampak bersemangat. Tatapannya penuh kebahagiaan dan kebanggaan saat bercerita. Sesekali, senyum tersungging dari pria yang akrab disapa Rizal tersebut. Maklum saja, yang diceritakan pria kelahiran Bogor 8 Agustus 1963 Itu memang bukan hal biasa buatnya. Bahkan, salah satu momen paling menyenangkan, sekaligus membanggakan selama 55 tahun hidupnya. Yakni, kala menjadi pelatih panahan orang nomor satu di Indonesia saat ini, Presiden Joko Widodo. Tangan dingin dialah, yang membimbing presiden berlatih panah, hingga mengikuti kejuaraan panahan di Bogor Januari 2017 lalu. Ya, meski sudah berlangsung sekitar satu tahun lalu, Rizal masih mengingat betul, momen-momen melatih Presiden ke tujuh Ind…