Skip to main content

Posts

Di Sekolah Pagesangan, Kebun, Ladang, dan Dapur Adalah Ruang Kelas

  Sekolah Pagesangan mengembalikan apa yang hilang dari sekolah formal: kesinambungan antara pendidikan dan realitas sekitar. FOLLY AKBAR, Gunungkidul, Jawa Pos --- DUA belas tahun sudah Sekolah Pagesangan (SP) berjalan. Selama itu pula, kebun, ladang, dan semua lingkungan yang ada di desa tempat mereka berdiri menjadi ruang kelas. ”Pagesangan itu artinya hidup atau kehidupan. Sekolah ini memiliki misi mendekatkan anggota dengan realitas atau kehidupan nyata di desanya,” kata Diah Widuretno, sang penggagas, kepada Jawa Pos Kamis pekan lalu (11/2). Berdiri di Desa Girimulyo, Gunungkidul, Jogjakarta, pada 2009, SP berfokus pada pendidikan pertanian. Pilihan itu diambil karena dinilai paling relevan dan kontekstual dengan kondisi riil masyarakat di desa tersebut. Tak ada yang namanya seragam di sekolah itu. Di sekolah informal tersebut, para murid pun lebih banyak berpraktik di luar. Dari kebun sampai dapur. Teori hanya diberikan secukupnya. Desain pembelajaran dilakukan sec
Recent posts

Sweta Kartika, Konsisten Kenalkan Budaya Nusantara lewat Komik

  Menurunnya produktivitas komik bernuansa budaya Nusantara memantik keresahan Sweta Kartika. Dia lantas mendirikan Padepokan Ragasukma untuk mewadahi para pembuat komik Nusantara.   FOLLY AKBAR, Jakarta, Jawa Pos --- BUAH jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah tersebut sangat layak disematkan kepada Sweta Kartika. Seorang komikus kelahiran Kebumen yang konsisten dengan karya-karya komik bernapas budaya Nusantara. Sosok Sweta bak wujud perpaduan yang sempurna dari jiwa orang tuanya. Ibunya gemar membaca komik. Ayahnya adalah orang yang gemar berseni-budaya. Keroncong, gamelan, wayang, hingga melukis. Perpaduan dua aliran itu sangat akrab sejak Sweta kecil. Pada akhirnya, titisan darah orang tuanya itu mengantarkan Sweta menemukan jati dirinya sebagai komikus Nusantara. ”Dari situ saya akhirnya membuat komik yang mengambil unsur budaya lokal,” ujarnya kepada Jawa Pos. Komik sudah menjadi bagian dari hidup Sweta. Sejak kecil dia sering disodori berbagai judul komik bacaan ibun

Kiprah Paramedis Jalanan Memberikan Pertolongan Pertama pada Aksi Massa

Alviani Sabillah, salah seorang pendiri Paramedis Jalanan Berbekal pendidikan medis dasar, para personel Paramedis Jalanan turun di tiap aksi besar untuk memberikan pertolongan pertama. Sering mendapat intimidasi meski sudah membawa tanda pengenal medis, termasuk dalam demo anti-omnibus law. FOLLY AKBAR, Jakarta, Jawa Pos --- JATUHNYA banyak korban dalam rangkaian aksi demonstrasi ’’reformasi dikorupsi’’ September 2019 lalu sangat lekat di ingatan Alviani Sabillah. Dia yang juga ikut turun ke lapangan kala itu harus melihat dengan mata dan kepala sendiri kawan seperjuangannya terluka tanpa ada pertolongan medis yang cepat. Kalaupun ada, hanya pertolongan spontanitas tanpa standar peralatan minimal yang memadai. Sisi kemanusiaannya pun tergugah. Perempuan berjilbab itu pun akhirnya ikut menginisiasi lahirnya kelompok Paramedis Jalanan. Bersama sembilan kawan lain yang berlatar mahasiswa, buruh, dan aktivis medis. Sebuah kumpulan yang bertugas memberikan pertolongan pertama kepada massa

Liku-Liku Borneo Tattoo Mendokumentasikan Budaya Tato Dayak Kalimantan

Delapan bulan mengelilingi Kalimantan, Borneo Tattoo meneliti dan mengarsipkan budaya tato suku Dayak dan sub-Dayak. Naik motor, kenyang kesasar meski sudah bermodal GPS. FOLLY AKBAR, Jakarta, Jawa Pos --- MELEWATI jalanan setapak. Menyusuri hutan tropis. Menyeberangi sungai-sungai. Dan, menemui masyarakat adat di pedalaman Kalimantan. Delapan bulan lamanya Bonfilio Yosafat melakukan itu semua. Demi mengarsipkan tradisi bertato masyarakat Dayak Kalimantan yang mulai digarap empat tahun lalu. Tapi, pandemi Covid-19 yang menutup banyak akses telah mengganjal kerja pendokumentasian itu. Bonbon pun memilih balik dulu ke Jawa sejak awal Agustus. Selama delapan bulan itu Bonbon dan dua rekannya, Atma Parindra dan Doni Prayogo, sudah menyelesaikan sebagian besar target ekspedisi Borneo Tattoo. Mendatangi 22 suku Dayak dan berbagai subkulturnya di lebih dari 60 desa yang tersebar di lima provinsi di Kalimantan. Dia tinggal butuh mendatangi empat suku Dayak lain setelah pandemi. ’

Sulitnya Penderita Talasemia Berburu Darah di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 membuat jumlah pendonor darah turun drastis. Padahal, ada orang-orang yang membutuhkan darah secara reguler supaya bisa tetap bertahan FOLLY AKBAR, Jakarta, Jawa Pos --- PERTENGAHAN Mei lalu, Annisa Octiandari Pertiwi mengalami salah satu fase tersulit dalam hidupnya. Dia harus pontang-panting mencari darah golongan AB resus positif. Tak mendapatkan, nyawanya menjadi taruhan. Di bank darah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, tempat langganannya, stok kosong. Sementara di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kramat yang jadi rujukan RS, jumlahnya terbatas. Nisa, sapaannya, membutuhkan 800 hingga 1.000 cc. ”Itu sekitar tiga sampai empat kantong darah,” ujar perempuan berusia 26 tahun tersebut Kamis malam (18/6). Bingung mencari, Nisa lalu menghubungi sejumlah kawan lamanya. Kawan-kawan yang dia ingat memiliki golongan darah sama. Untung, Nisa mendapati Muhammad Faisal, kawan kuliahnya, dan Rodzotus Solekha, teman kantornya, yang hari itu bersedia menj

Saat Anakku Berusia Satu Tahun

Hari ini 3 Juni 2020, Giyanta Sena genap berusia satu tahun. Itu artinya, sudah 12 purnama, serta 365 kali pergantian malam dan siang dia lewati. Lengkap dengan berbagai sukanya. Juga dukanya. Diusia satu tahun, dia telah banyak berubah. Dia yang dulu berbobot 2,8 kilogram, kini nyaris 10 kilogram. Hanya kurang sedikit. Posturnya pun tumbuh pesat. Hampir dua kali lipat. Dari 47 centimeter menjadi 80 centimeter. Sekarang, dia bukan lagi bayi. Dia sudah tumbuh menjadi balita. Untuk orang dewasa, rentang waktu satu tahun mungkin relatif tidak lama. Tidak banyak yang berubah. Apalagi sangat drastis. Paling rambutnya yang tumbuh. Botak jadi gondrong. Atau kukunya. Pendek jadi panjang Namun untuk seusianya, satu tahun adalah masa yang panjang. Masa tumbuh amat pesat. Dari yang hanya bisa berbaring, naik level jadi tengkurep, duduk, merangkang, berdiri. Bahkan, dia mulai bisa berjalan sedikit-sedikit. Giginya pun bertambah. Dari nol menjadi sepuluh. Sekarang, dia sudah makan makanan yang sama

Gara-gara Corona, Saya Berkenalan Dengan Saham

Tiga pekan terakhir, saya tengah asik menggeluti dunia baru. Sebuah aktivitas yang justru ditemukan di sela-sela 'kebingungan' mengisi waktu di tengah pandemi. Maklum, banyak waktu di kasur. Lalu dunia barunya apa? Dunia investasi!  Sebetulnya, saya sudah mengenal kata "investasi" sejak lama. Namun selama ini terbatas pada investasi-investasi konvensional saja. Misalnya emas, properti atau mentok-mentok deposito. Sementara dunia baru yang saya maksud di sini adalah investasi saham. Sesuatu yang sebetulnya sering juga didengar. Sangat akrab di lingkungan saya kerja, -lingkungan wartawan. Namun tidak pernah mencobanya. Tapi belakangan, berawal dari iseng otak-atik fasilitas Buka Reksa, - platform reksadana milik Bukalapak, saya malah keasikan. Melihat grafik uang naik, atau kesal saat harga saham turun memberi sensasi sendiri.  Rasa penasaran makin naik. Perlahan, keasikan itu juga sudah membawa saya berselancar ke berbagai platform investasi lainnya. Mulai dari Bib