Skip to main content

Landasan Epsitemologis Ilmu Dakwah


  1. Pendahuluan
Pada dasarnya gerakan dakwah Islam berlandasan pada perintah amar ma’ruf nahi munkar. Untuk kategori amar ma’ruf pada hakikatnya semua bisa melakukannya, jika sekedar “menyuruh” karena menyuruh kebaikan lebih mudah daripada mencegah kemungkaran (nahi munkar) yang berisiko dan harus dengan tindakan riil. Sesungguhnya inilah cikal bakal perintah dakwah. Adapun kode etik berdakwah, semuanya tertata dalam al-quran dan telah dicontohkan oleh Nabi dan Rasul terdahulu. Dakwah islam hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, bahasa yang mudah dipahami dan tidak memaki orang-orang kafir, demikian batasan-batasan dalam berdakwah yang termaktub dalam al-quran secara rinci sebagai acuan bagi para pendakwah untuk mewujudkan al-quran sebagai sumber utama epistemologi dan aksiologisnya.

  1. Pengertian Epistemologi
Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, Episteme (pengetahuan atau kebenaran) dan logos (pikiran, kata atau teori). Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu.
            Pengertian ilmu pengetahuan sendiri adalah hasil dari proses mengenal karena adanya hubungan antara subjek yang sadar dengan objek yang ingin dikenalnya lebih dekat lagi. Sesungguhnya segala ilmu yang dikembangkan manusia merupakan alat untuk mencari dan mengenal lebih dekat Sang Maha berilmu. Hubungannya dengan filsafat, ilmu dan pengetahuan manusia mampu melakukan proses evolusi ruhaniah, dari pemahaman alam yang sederhana ke alam yang lebih kompleks lagi (parsialitas ketuhanan).
            Moralitas sebagi dimensi moral keagamaan adalah salah satu syarat yang mesti ada dalam perangkat dakwah.
            Artinya perilaku dakwah harus mencirikan akhlak dalam pengertian mempunyai kandungan syarat dari perbuatan baik. Inilah sesungguhnya perpaduan unik antara visi dan aksi dalam tradisi dakwah Islam.

Konstruksi Epistemologi Ilmu Dakwah
1.      Melalui cara pengetahuan bayani atau lazim disebut epistemologi bayani. Bayani secara etimologis mempunyai pengertian penjelasan, pernyataan, ketetapan. Secara terminologi, Bayani berarti pola pikir yang bersumber pada nash, ‘ijma dan ijtihad.
Epistemologi Bayani merupakan studi filosofis terhadap struktur pengetahuan yang menempatkan teks (wahyu) sebagai suatu kebenaran mutlak. Sedangkan akal hanya menempati tingkat kedua, dan sifatnya hanya menjelaskan teks yang dimaksud.
2.      Melalui cara pengetahuan irfani, secara etimologis irfan’ (gnosis) berati : al-ma’rifah, al-ilm, al-hikmah. Pada dataran ini dalam hubungannya dengan dakwah Islam tidak begitu banyak berpengaruh terhadap sumber pengetahuan mengingat dakwah pada dasarnya lebih kepada persoalan perubahan sosial dan transformasi nilai-nilai Islam yang konkret dan rasional.
3.      Melalui cara pengetahuan Burhani (demonstratif) berarti argumentasi yang jelas. Burhani membangun pengetahuan dan visinya, atas dasar potensi bawaan manusia (proses pengindraan, eksperimentasi, atau konseptualisasi).

Adapun urutan teoritiknya sebagai berikut :
1)      Sumber-sumber ilmu dakwah
2)      Metode dan proses-proses atau prosedur keilmuan dakwah
3)      Pendekatan (approach) keilmuan dakwah
4)      Kerangka teoritik ilmu dakwah
5)      Fungsi dan peran akal dalam ilmu dakwah
6)      Tipe argumentasi ilmu dakwah
7)      Tolak ukur validitas keilmuan dakwah
8)      Prinsip-prinsip dasar ilmu dakwah
9)      Kelompok ilmu bantu dalam keilmuan dakwah
10)  Hubungan subjek dan objek ilmu dakwah

C. Strategi Dakwah dalam Tradisi Keilmuan : Pertautan Visi dan Aksi

Menurut Urgen Hebernas “dakwah” merupakan media transformasi teori emansipatoris. Artinya sejauh mana dakwah mampu membantu masyarakat untuk mencapai otonomi dan kedewasaan berfikir dan bertindak. Untuk itu para pendakwah hendaknya membuat objek mampu memahami maksudnya. Dalam hal ini dakwah perlu transformasi, sebagai konsekuensinya dakwah harus terus mengikuti perkembangan manusia. Dalam berdakwah tidak perlu melalui kekerasan dalam aspek apapun, melainkan lewat argumentasi secara dialektik. Transformasi  perlu dikembangkan dengan meletakkan Islam sebagi tolak ukur normatif agar dalam aplikasinya tidak mengakibatkan krisis kredibilitas.
            Secara dekonstruksi-konstruksif dalam arkeologi pengetahuan Michael Foucault memberi pengertian hakikat “dakwah” sebagai pengetahuan, pembicaraan tentang strategi. Strategi disini berarti bahwa dakwah tidak hanya dipahami sebagai transformasi nilai dari da’i kepada objek tetapi harus ada strategi semacam dialektik. Dalam relasi kekuasaan dakwah mempunyai peran baik untuk melontarkan ide-ide dalam memaknai setiap perilaku politik demi kemaslahatan umat manusia, dengan kemampuan dakwah serta pengetahuan yang luas objek dakwah bisa dikuasai.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat dakwah adalah transformasi nilai, karena itu pertama harus ada perkembangan seiring perkembangan jaman, kedua dakwah tidak hanya dipahami pemaksaan da’i kepada objek, tapi memahami dakwah sebagai cara konkret untuk mentransformasikan nilai-nilai Islam dalam mencapai Islam rahmatan lil ‘alamin.

D. PENUTUP

Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan manusia itu berasal dari rasa ingin tahunya. Dari rasa ingin tahu itu akhirnya melahirkan ilmu berdasarkan pengamatan empirik, rasional dan intuisi. Dalam Islam ada 3 bentuk epistemologi yang berkembang yaitu epistemologi bayani, epistemologi ‘irfani dan epistemologi burhani.
            Dalam perkembangan selanjutnya mestinya dakwah tidak hanya dipahami sebagai transformasi nilai tetapi pengandaian hubungan itu secara fungsional karena di dalam hubungan fungsionalnya ada semacam pola strategi. Di sinilah keunikan dakwah yang mempunyai pertautan erat dengan strategi.  

Comments

Popular posts from this blog

Hadits-hadits Dakwah

  Kewajiban Dakwah
1)مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرٍ فَاعِلِهِ (رواه مسلم)
“Barang siapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melaksanakannya”
2)مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ.( وراه صحيح مسلم) Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman

HUKUM BERDAKWAH

1)اَنْفِذْ عَلَى رَسُلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ اُدْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُمْ بـِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ مِنْ حَقِّ اللهِ فِيْهِ فَوَاللهِ لِأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ ) (رواه البخارى)
“Ajaklah mereka memeluk Islam dan beritahu mereka apa-apa yang diwaji…

Ayat dan Hadits Tentang Komunikasi Efektif

Bab I Pendahuluan
Dalam perspektif Islam, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia karena segala gerak langkah kita selalu disertai dengan komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi yang islami, yaitu komunikasi berakhlak al-karimah atau beretika. Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber kepada Al-Quran dan hadis (sunah Nabi). 
Dalam Al Qur’an dengan sangat mudah kita menemukan contoh kongkrit bagaimana Allah selalu berkomunikasi dengan hambaNya melalui wahyu. Untuk menghindari kesalahan dalam menerima pesan melalui ayat-ayat tersebut, Allah juga memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk meredaksi wahyu-Nya melalui matan hadits. Baik hadits itu bersifat Qouliyah (perkataan), Fi’iliyah (perbuatan), Taqrir (persetujuan) Rasul, kemudian ditambah lagi dengan lahirnya para ahli tafsir sehingga melalui tangan mereka terkumpul sekian banyak buku-buku tafsir.

Dai, Mad'u dan Pesan Dakwah

A.LATAR BELAKANG Agama merupakan sebuah sistem kepercayaan yang pada dasarnya adalah menentukan pijakan hidup seorang manusia pada sebuah keyakinan akan kebutuhan fitrawi manusia itu sendiri atas kepercayaan yang dianutnya. Unsur ajaran dan tata nilai menjadi sebuah bangunan kokoh yang tertanam dalam esensi ajaran dari sebuah agama. Ajaran dan tata nilai tersebut menciptakan sebuah bangunan tradisi yang menjadikan aktifitas kehidupan memiliki aturan dalam proses interaksi sosial-keagamaan. Dari sini bisa kita asumsikan bahwa manusia pada dasarnya memerlukan kepercayaan dan sebuah pedoman untuk hidup. Pemberian kepercayaan dan sebuah pedoman manusia tidak dapat secara langsung diberikan, melainkan dengan sebuah perantara yaitu dakwah. Secara terminology dakwah telah banyak didefinisikan oleh para ahli. Sayyid Qutb memberi batasan dengan ‘mengajak’ atau ‘menyeru’ kepada orang lain masuk kedalam sabil Allah Swt. Bukan untuk mengikuti dai atau sekelompok orang. Dakwah sendiri dapat didefin…