Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2014

Munaqosah dan Ulah Orang Kaya

Dalam dua minggu terakhir, saya menghadiri Munaqosah Zaki dan Misbah. Keduanya merupakan kawan kuliah saya satu angkatan. Munaqosah, kalau di kampus lain disebut sidang skripsi. Karena kampus saya basic-nya Islam, istilahnya pun menggunakan bahasa arab. Tapi, whatever, apalah arti sebuah nama. Dalam acara Munaqosah tersebut, kedua teman saya sama-sama membawa makanan yang cukup “wah” untuk ukuran orang seperti saya –yang selalu dekat dengan tempe dan kerupuk. Zaki membawa 4 kotak Brownies Amanda, sedangkan Misbah membawa 4 box sneck mewah, dan 1 tas berisi belasan roti, serta makanan ringan lainnya. Kejadian ini menjawab pertanyaan saya 3 tahun yang lalu. Kala itu saya melihat banyak makanan di meja, di luar Ruang Munaqosah. Waktu itu Ruang Munaqosah masih di lantai dua fakultas. Ada 4 kotak Nasi Padang, dan beberapa box jajanan seperti Chocolatos, Wafer dan lain sebagainya. Pada waktu itu saya bertanya-tanya, untuk apa makanan ini? Sekarang saya tahu jawabanya, makanan ini dibawa pesert…

Kemana Petani Mencari Nyawanya?

Meski hidup di kota, saya beruntung masih bisa mendapatkan kost yang dekat dengan sawah. Meski tidak begitu luas, tapi beberapa petak sawah tersebut sanggup memberikan kenyamanan yang cukup untuk ukuran kota besar seperti Jogjakarta. Selain jauh dari hiruk-pikuk kendaraan, suara katak dan jangkrik masih bisa saya jumpai di dalam kegelapan dan kesunyian malam, khususnya di musim penghujan. Sungguh nyaman! Sawah-sawah tersebut cukup produktif. Jika saya tidak salah mengamati, dalam satu tahun masih bisa panen 2 sampai 3 kali, meski yang ketiganya hanya menghasilkan jagung atau singkong. Nyawa sawah tersebut sangat bergantung pada sungai –atau lebih cocoknya disebut selokan kecil yang mengalir sepanjang Gang Salak, Sorowajan Baru. Selokan tersebut mengalir dari utara ke selatan, layaknya sungai-sungai yang ada di Jogja. Di musim hujan, aliran air di selokan tersebut lumayan deras, atau minimalnya mengalir lancar. Tapi di musim kemarau, selokan tersebut lebih mirip tempat sampah. Berbagai j…

MEA Menantang Pemerintahan Baru

Tampuk kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah berlangsung 10 tahun akan segera berakhir. Pemilihan Presiden yang telah dilaksanakan 9 Juli lalu melahirkan pasagan Jokowi-JK sebagai penggantinya. Berbagai persoalan –baik persoalan laten maupun persoalan baru telah menantinya. Di kepemimpinan keduanya lah, wajah Indonesia lima tahun ke depan akan ditentukan. Lalu, apa tantangan terbesar pemerintahan baru? Sebagai negara berkembang, persoalan elementer tentu masih menjadi menjadi “menu utama” yang wajib disantap pemerintahan baru dibawah kendali Jokowi-JK. Sebut saja masalah pemerataan pendidikan, jaminan kesehatan, kesenjangan sosial, infrastruktur, dan persoalan mendasar lainnya. Persoalan dasar itu menjadi penting untuk segera diselesaikan, guna menghadapi tantangan besar lainnya yang sudah tampak di depan mata, yakni globalisasi yang salah satu dampaknya adalah perdagangan bebas.   Perjanjian untuk mengintegrasikan perekonomian kawasan ASEAN, atau dikenal dengan isti…

Menyoal Pemanfaatan Smartphone

Pada awal bulan Juni lalu, salah satu lembaga survei di Amerika menyatakan Indonesia sebagai negara pengguna smartphone teratas dengan rata-rata penggunaan 181 menit per hari. Di posisi kedua ada Filipina dengan rata-rata penggunaan 141 menit per hari. Sementara Tiongkok, Brazil dan Vietnam masing-masing berada diurutan ketiga, keempat dan kelima. Angka tersebut berbanding lurus dengan terus meningkatnya penjualan smartphone di Indonesia. Menurut data International Data Corporation (IDC), sebuah lembaga periset pasar internasional, Indonesia menyumbang 30 persen penjualan smartphone di Asia Tenggara. Di samping semakin terjangkaunya harga smartphone, meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia dinilai banyak pihak sebagai faktor perilaku konsumtif masyarakat Indonesia, tak terkecuali untuk produk telekomunikasi termutakhir. Dan mayoritas pengguna smartphone adalah kalangan muda di kisaran 15-28 tahun. Di satu sisi fakta ini menggembirakan, karena menunjukkan masyarakat yang “melek” …